Tunggakan Pelanggan PDAM Jayapura Capai 29 Miliar

Entis Sutisna
banner 120x600

Paraparatv.id | Jayapura | Jumlah tunggakan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Jayapura dari tahun 2019 hingga 2021 lalu sebesar Rp.29.9 Milyar dan yang paling banyak meyumbang tunggakan adalah sektor rumah tangga oleh karena itu di tahun 2022 ini pihaknya melakukan tindakan tegas bagi pengguna air PDAM Jayapura tidak membayar akan dilakukan pembongkaran.

Hal tersebut diungkapkan Direktur PDAM Jayapura Entis Sutisna kepada wartawan Paraparatv.id Selasa 8 Maret 2022.
” Tunggakan air masyarakat ini kini mencapai 29 Milyar lebih kami sudah melakukan upaya sosialisasi ,pemberitahuan hingga pemutusan tapi masyarakat tidak mengindahkan juga, kadang sudah kami putus masih juga ada yang oknum masyarakat yang bandel menyambung kembali ” Ungkap Entis Sutisna.

Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membayar penggunaaan air PDAM, membuat pihak PDAM Jayapura harus menanggung tunggakan dari tahun 2019 hingga 2021 kemarin sebesar 29 Milyar lebih.

Menurut Direktur PDAM Jayapura 89 persen paling banyak ada di sektor atau kelompok rumah tangga yang tidak membayar tagihan air.

PDAM Jayapura telah melakukan upaya kepada a masyarakat yang masih memiliki tunggakan namun kerap kali banyak oknum masyarakat yang bandel dengan sengaja menyambung kembali pipa air yang di putus PDAM.
” ada 6 regu pemutusan di PDAM Jayapura mulai dari kantor cabang sampai ke ranting namun terkadang banyak oknum masyarakat yang dengan sengaja menyambung kembali pipa yang telah kami potong,nah cara seperti tidak ada terjadi lagi di tahun 2022 ini kami akan tindak tegas oknum masyarakat tersebut ” Katanya.

Ditahun 2022 ini pihaknya akan menindak tegas bagi oknum masyarakat yang tidak membayar dan dengan sengaja menyambung kembali pipa air kami akan langsung bongkar,Hal ini dilakukan untuk memberikan efek jera dan tidak tegas.

Sementara itu alat water meter yang digunakan pihaknya masih bersifat konvensional belum seperti Perusahaan Listrik Negara yang sudah menggunakan digital dengan sistem token, hal ini disebabkan karena infrastruktur yang belum memadai serta tingginya mesin digital tersebut. (GR/JT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *