BI : PON XX 2021 Menjadi Awal Pemulihan Perekonomian Papua

0
53

Paraparatv.id | Jayapura | Pelaksanaan PON XX diprakirakan membawa peningkatan PDRB sebesar Rp 950 M – 1,5 T atau 0,7 – 1,10 % (terhadap dasar ADHK 2020). Sektor yang mengalami peningkatan terbesar adalah sektor konstruksi dengan peningkatan Rp 778 – 926 M atau 4,2% – 5,0%.

Hal ini dikemukakan oleh Kepalq Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Naek Tigor Sinaga kepada para jurnalis yang ada saat Bincang Bincang Media di salh satu hotel di Jayapura, Jumat (22/10).
” Dampak PON langsung dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat umum. Dampak langsung dirasakan oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang tercermin pada peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen ke level 142, meningkat dari 124 pada triwulan II 2021,” ujar Tigor dalam releasepersnya.

Selanjutnya, UMKM yang turut berpartisipasi dalam PON XX diprakirakan turut mengalami peningkatan omset hingga 60%. Sektor perdagangan diprakirakan mengalami peningkatan sebesar Rp52 – 105M. Sektor transportasi dan pergudangan diprakirakan mengalami peningkatan sebesar Rp 71 – 110 M atau 1,94% (yoy) pada tahun 2021 yang didorong oleh peningkatan kuantitas maupun harga tiket pesawat.

Menurut data, kata Tigor Pelaksanaan PON XX turut memberikan dampak terhadap peningkatan kebutuhan uang di masyarakat. Sepanjang triwulan III 2021, tingkat kebutuhan uang tunai mengalami peningkatan yang tercermin dari Outflow KPwBI Papua. Peningkatan outflow ini terjadi hingga Rp679 M atau tumbuh 34% (yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020.

Menurutnya, Bank Indonesia terus mendorong digitalisasi sistem pembayaran dalam PON XX melalui peningkatan transaksi non-tunai antara lain QRIS, ATM, debet serta kredit. Peningkatan penggunaan QRIS di Papua tercermin dari peningkatan merchant QRIS dan juga nominal transaksi QRIS.” Hingga saat ini, merchant QRIS di Papua telah mencapai 78.886 usaha yang tersebar di seluruh Papua. Sementara nilai Transaksi ATM dan debet Papua secara kumulatif periode Januari hingga Juli 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 6,47%(yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020. Transaksi menggunakan kartu kredit di Papua pada periode Januari-Juli 2021 tercatat tumbuh 4,47% (yoy),” jelasnya.

Lanjut Tigor Sinaga, Pemulihan perekonomian Papua tidak terlepas dari perkembangan inflasi Papua. Inflasi tahunan Papua mencapai level terendahnya sepanjang 3 tahun terakhir pada bulan September 2021 yakni sebesar -0,40%(yoy). Deflasi tahunan utamanya disebabkan kelompok makanan minuman dan tembakau yang dipengaruhi oleh peningkatan pasokan harga cabai rawit, ikan ekor kuning dan tomat. “Langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Papua dan sinergi bersama PB PON mampu menahan inflasi sepanjang pelaksanaan PON XX. Hingga akhir Oktober 2021, provinsi Papua diprakirakan mengalami inflasi tahunan, dengan rentang yang masih berada dalam target inflasi Nasional,” katanya.


Hal tersebut, memberikan dampak signifikan dan menjadi pendorong pemulihan ekonomi sektor nontambang di Papua.

Dengan didukung oleh penanganan COVID-19 yang semakin baik, akan menjadi kunci pemulihan ekonomi Papua lebih lanjut. “Untuk itu, upaya peningkatan vaksinasi, sosialisasi yang berkelanjutan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta penanganan kasus COVID-19 yang baik, perlu dijaga keberlangsungannya dengan didukung penerapan protokol 6M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, Mengurangi mobilitas, Menjaga pola makan sehat),” tutup Tigor. (*/ redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here