Meski Pandemi, OJK Catat Industri Jasa Keuangan Papua dan Papua Barat  Tumbuh Positif

0
37
Insustri jasa keuangan disalah Jasa Layanan Perbankan BRI (Sindung)

Paraparatv.id | Jayapura | Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Papua dan Papua Barat mencatat industri jasa keuangan di Provinsi Papua tercatat stabil dan tumbuh positif meski tertekan oleh Pandemi Covid-19. Bahkan kinerja industri jasa keuangan di Provinsi Papua tumbuh lebih tinggi dibandingkan nasional.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua dan Papua Barat, Adolf Victor Simanjuntak mengatakan, dari sisi industri perbankan, posisi dana pihak ketiga pada Juli 2021 di Provinsi Papua sebesar Rp45,77 triliun atau tumbuh sebesar 4,43% dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. “Begitupun kredit mengalami pertumbuhan sebesar 5,12% secara yoy atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional. Kinerja intermediasi perbankan di Provinsi Papua berjalan baik dengan pemulihan ekonomi yang meningkat dari peningkatan konsumsi rumah tangga,” ujar Adolf Simanjuntak, Kamis (09/02/2021) kepada paraparatv.id.

Sementara di segi pasar modal,  Adolf menilai dua segi yaitu nilai kepemilikan saham maupun nilai transaksi saham di Provinsi Papua juga tumbuh positif secara yoy pada posisi Juli 2021. Nilai kepemilikan saham dan nilai transaksi saham di Provinsi Papua masing-masing sebesar Rp574,96 miliar (22,90%). ) dan Rp555,54 miliar (53,51%). “Capaian positif tersebut meningkat oleh peningkatan partisipasi publik di pasar modal alternatif investasi yang aman, sebagaimana yang diharapkan dari jumlah investor di Provinsi Papua yang mengalami peningkatan 76,72% secara yoy pada Juli 2021,” lanjut Adolf Simanjuntak.

Lanjutnya, pada Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), piutang perusahaan pembiayaan di Provinsi Papua mampu tumbuh positif sebesar 4,47% dengan nilai piutang sebesar Rp1,33 triliun. Selain itu perkembangan Fintech P2P Lending di Provinsi Papua menorehkan pertumbuhan yang signifikan, baik dari sisi capaian intermediasi keuangan maupun jumlah rekening pemberi pinjaman dan peminjam. Jumlah dana yang dikumpulkan dari pemberi pinjaman pada Posisi Juli 2021 Rp4,94 miliar (72% ytd) dan jumlah dana yang disalurkan kepada peminjam sebesar Rp27,55 miliar (84,98% ytd). Pencapaian tersebut tidak terlepas dari peningkatan jumlah rekening pemberi pinjaman dan peminjam di Provinsi Papua yang tumbuh masing-masing sebesar 81% dan 58,39%. Namun demikian,

“Secara nasional industri jasa keuangan juga tumbuh stabil dengan data hingga Juli menunjukkan angka pertumbuhan yang positif seperti intermediasi perbankan dan penghimpunan dana di pasar modal,” tambahnya.

“Hingga Juli 2021, perbankan telah mengalirkan kredit sebesar Rp1.439 triliun. Namun dalam periode yang sama terdapat pelunasan dan pembayaran kredit termasuk dari beberapa debitur besar yang mencapai Rp1.332 triliun. Sehingga secara statistik kredit perbankan pada Juli kembali berada di zona positif dan tumbuh sebesar 0,50% yoy. pertumbuhan kredit konsumsi yang tumbuh 2,40%. Begitupun kredit UMKM tumbuh 1,93% yoy,” lanjut Simanjuntak.

Sementara itu, untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) masih mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 10,43% yoy. Dari sisi suku bunga, kebijakan penurunan suku bunga telah dilakukan pada penurunan suku bunga kredit ke tingkat yang cukup kompetitif.

“Penghimpunan dana di pasar modal hingga 24 Agustus 2021 telah mencapai nilai Rp136,9 triliun atau meningkat 199% dari periode yang sama tahun lalu, dengan terdapat 28 emiten baru yang melakukan IPO. Selain itu, masih terdapat penawaran umum yang masih dalam proses dari 92 emiten dengan nilai nominal sebesar Rp50,6 triliun,” ungkap Adolf Simanjuntak.

Di Sektor asuransi, mencatatkan penghimpunan premi pada Juli 2021 sebesar Rp21,2 triliun dengan rincian Asuransi Jiwa sebesar Rp13,6 triliun, Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp7,6 triliun. Selanjutnya, fintech P2P lending pada periode yang sama mencatatkan pertumbuhan baki debet pembiayaan sebesar Rp24,22 triliun. Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan melanjutkan tren perbaikan meskipun masih berada di zona kontraksi dan mencatatkan pertumbuhan negatif 9,9% yoy di Juli 2021. (*/redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here