Laporan : Diskominfo Tolikara

Paraparatv.id | Karubaga | Barapen sebagai media masyarakat Tolikara Papua untuk berbagi kasih. Saat ini dalam pesta barapen tidak saja bakar babi, tapi juga bakar ayam. Bukti toleransi mereka terhadap masyarakat lain.

Barapen atau disebut juga Bakar batu merupakan tradisi suku Dani di Pegunungan Tengah Papua (wilayah Adat Lapago), Atau di suku Lani (mayoritas di Tolikara) bakar batu disebut lago lakwi. Daerah lembah Wamena, bakar batu lebih dikenal dengan sebutan kit oba isago, sedangkan di Paniai disebut dengan mogo gapil. Sementara itu di masyarakat Papua Wilayah  Adat lain acara serupa dikenal dengan istilah bahasa suku masing – masing.

Dalam tradisi barapen terdapat makna mendalam, yakni sebagai ungkapan syukur pada Tuhan dan simbol solidaritas yang kuat. Barapen merupakan ritual memasak bersama yang bertujuan untuk mewujudkan rasa syukur kepada sang pemberi kehidupan.

Bakar batu juga salah satu media berkumpul bersama dengan keluarga dan kerabat, menyambut kabar bahagia atau bahkan media perdamaian.

Ritual ini juga sering dilakukan untuk menghimpun orang pada prosesi pembukaan ladang baru, kelahiran, kematian, berburu, membangun rumah, perkawinan, dan juga hal-hal lain yang mengharuskan mobilisasi massa dalam jumlah besar.

Upacara barapen juga merupakan simbol kesederhanaan masyarakat Papua. Intinya adalah persamaan hak, keadilan, kebersamaan, kekompakan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan yang membawa pada perdamaian.

Makna yang lebih mendalam dalam acara barapen ini adalah komunitas muslim Papua, ketika hadir dalam acara Barapen,disuguhkan dengan hidangan daging Ayam khusus dengan masakan barapen ayam yang dimasak di kolam yang terpisah dari daging babi.

Kamis, 30 Juli 2020  lalu masyarakat Tolikara dari Gereja GIDI Klasis Konda Wilayah Tolikara Papua mengelar Seminar Kaum Ibu dengan mengusung tema “Keluarga Kristen”. Kegiatan seminar kaum ibu itu berlangsung selama 4 hari dan pada hari ke 4 diakhiri dengan acara Barapen,dengan melibatkan 17 Jemaat Gereja GIDI.  Acara Barapen itu digelar dihalaman gereja GIDI Ebenhaezar Karubaga Tolikara pekan kemarin.

Sejak pagi sebagian masyarakat sibuk menyiapkan bakar batu. Ada yang datang membawa kayu, sayuran, rumput, dan batu. Ada yang menyiapkan lubang, ada yang mulai membakar batu-batu dan ada pula yang memotong babi dan ayam.

Semua berlangsung sangat cepat. Ketika batu-batu sudah membara dia atas kayu yang dibakar, batu dimasukkan ke dalam lubang sedalam kurang lebih 50 cm yang sudah disiapkan dengan alas rumput. Di atas batu kembali dimasukkan rumput atau sayuran, menyusul daging, betatas, (ubi), pisang dan bahan lainnya.  Jika semua sudah masuk, kemudian ditutup kembali dengan sayuran dan rumput. Untuk mengikatnya mereka menaruh batu-batu di atas tumpukan tersebut.

Sambil menunggu masakan daging babi dan daging ayam matang, di situlah para wanita muda bahkan wanita Tua menghias diri dengan  pakaian adat hasil olahan tagan sendiri. Sementara itu para Pria muda dan Tua juga menghias diri dengan berbagai perlengkapannya. Beranjak jam makan siang ratusan masyarakat datang duduk di tanah secara berkelompok sesuai kampung masing-masing mengelilingi area barapen. Menunggu prosesi pembagian daging dan sayur, masakan lain yang dihidangkannya.

Saat prosesi penyiapan hidangan, yang bertugas masak segera membongkar lubang bakar batu. Mereka mengiris daging yang besar-besar itu menjadi lebih kecil. Para perwakilan kelompok mendatangi lubang bakar batu. Mereka dapat bagian daging untuk masing-masing kelompok.

Para Pendeta Gereja GIDI mendapat antaran pertama disusul Pejabat pemerintah.  Juga para pejabat non-Kristen yang hadir disuguhi daging ayam hasil bakar batu yang dimasak terpisah dari daging ayam. Setelah itu giliran masyarakat yang hadir.

Masyarakat antre rapi dan tidak rebutan. Masing-masing kelompok mewakilkan dilayani salah satu anggota untuk mendekat ke lubang bakaran. Setelah mereka mendapat bagian, wakil ini lari menuju tempat kelompok berkumpul. Kalau masih kurang, mereka kembali lagi ke tempat bakar batu. Hebatnya, ratusan orang yang datang akan dapat bagian semua. Termasuk warga pendatang yang tidak biasa makan daging babi,disuguhkan daging ayam yang dimasak di kolam terpisah dari daging babi. Cara ini salah satu bukti tingginya toleransi Masyarakat Tolikara Papua yang patut diapresiasi semua pihak. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here