Example floating
BERITAKABAR KOTA JAYAPURA

Dinas Perikanan Jayapura Sosialisasikan Sistem Rantai Dingin bagi Pelaku Usaha OAP, Rustan Saru Dorong Peningkatan Mutu dan Nilai Jual Ikan

2
×

Dinas Perikanan Jayapura Sosialisasikan Sistem Rantai Dingin bagi Pelaku Usaha OAP, Rustan Saru Dorong Peningkatan Mutu dan Nilai Jual Ikan

Sebarkan artikel ini

Paraparatv.id | Jayapura | Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Perikanan menggelar Sosialisasi Penerapan Sistem Rantai Dingin bagi Pelaku Usaha Perikanan Orang Asli Papua (OAP), kegiatan berlangsung di salah satu hotel di Kota Jayapura, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti 30 peserta yang terdiri dari nelayan, penjual ikan, dan pengolah hasil perikanan dari lima distrik di Kota Jayapura.

Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, M.M., mengatakan penerapan sistem rantai dingin sangat penting untuk menjaga kualitas dan kesegaran ikan, mulai dari proses penangkapan di laut hingga penjualan kepada konsumen.

Menurutnya, penanganan ikan yang tidak tepat dapat menurunkan mutu dan berdampak langsung terhadap nilai jual hasil tangkapan nelayan.

“Kalau nelayan dan mama-mama penjual ikan tidak memahami cara menjaga mutu ikan, kualitasnya bisa menurun dan otomatis mengurangi nilai jual. Karena itu, perlu diberikan sosialisasi tentang bagaimana menjaga mutu ikan mulai dari penangkapan di laut sampai ke tempat penjualan, bahkan hingga ke rumah, sehingga ikan tetap segar, awet, dan aman dikonsumsi,” ujar Rustan kepada media usai kegiatan.

Ia menjelaskan, penerapan sistem rantai dingin harus dilakukan secara berkelanjutan melalui penggunaan es dalam setiap tahapan penanganan ikan, mulai dari laut, perahu nelayan, tempat pelelangan ikan (TPI), hingga pasar.

Menurutnya, rantai dingin tidak boleh terputus karena suhu yang terjaga berperan penting dalam mempertahankan kesegaran ikan. Dengan kualitas yang baik, hasil perikanan memiliki nilai jual lebih tinggi dan berpotensi meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan nelayan dan pedagang ikan.

“Rantai dingin ini harus dijaga. Mulai dari laut, perahu, TPI sampai ke pasar, semuanya harus menggunakan es. Kalau ikan tetap segar, nilai jualnya akan tinggi dan pendapatan nelayan serta penjual ikan juga bisa meningkat,” katanya.

Selain menjaga kesegaran ikan, Rustan juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak menggunakan bahan berbahaya seperti formalin dan boraks untuk mengawetkan ikan.

Ia menegaskan, penggunaan bahan tersebut dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Karena itu, pelaku usaha perikanan perlu mendapatkan pemahaman mengenai cara pengawetan yang benar, termasuk mengenali ciri-ciri ikan yang mengandung formalin.

Rustan juga mendorong agar edukasi mengenai keamanan pangan perikanan diperluas kepada masyarakat, khususnya para penjual ikan, sehingga konsumen dapat memperoleh ikan yang segar dan aman dikonsumsi.

Ia menyebutkan, Kota Jayapura memiliki potensi hasil perikanan berkualitas, seperti ikan cakalang, tuna, dan ekor kuning, yang berpeluang dikembangkan untuk memenuhi pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

“Ke depan, kami minta Dinas Perikanan tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga melakukan pembinaan dan membantu penyediaan peralatan yang dibutuhkan. Dengan begitu, pelaku usaha perikanan OAP bisa lebih produktif, menjaga mutu hasil tangkapan, dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kota Jayapura, Matheys Sibi, S.ST.Pi., M.Si., dalam laporannya menjelaskan bahwa ikan merupakan salah satu sumber pangan penting yang menyediakan berbagai nutrisi bagi manusia.
Namun, ikan termasuk bahan pangan yang mudah rusak apabila tidak ditangani dengan benar. Karena itu, kesegaran menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan mutu produk perikanan.

Ia menjelaskan, penurunan mutu ikan dapat terjadi akibat penanganan yang kurang tepat sejak proses penangkapan hingga pengolahan. Salah satu upaya untuk mencegah kondisi tersebut adalah melalui penerapan sistem rantai dingin atau cold chain system.

Matheys mengungkapkan, penanganan ikan di pasar tradisional maupun di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Hamadi masih perlu ditingkatkan.
Dalam praktiknya, ikan masih ditemukan diletakkan di lantai TPI yang kotor atau diseret ketika diturunkan dari kapal nelayan.

Selain itu, penggunaan es pada tempat penyimpanan ikan belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian terhadap kebersihan air yang digunakan. Di sejumlah meja penjualan ikan di pasar tradisional, ikan juga masih disiram menggunakan air biasa tanpa dilengkapi es untuk mempertahankan kesegarannya.

“Berdasarkan kondisi tersebut, perlu ada upaya untuk mempertahankan mutu dan kesegaran ikan. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi agar para pelaku usaha perikanan memahami cara penanganan ikan yang baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pengetahuan pelaku usaha perikanan mengenai pentingnya penerapan sistem rantai dingin, sanitasi, dan higiene agar hasil tangkapan memiliki kualitas yang baik serta nilai jual yang lebih tinggi.

Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsumen mengenai manfaat penggunaan es dalam penanganan ikan.

Adapun narasumber dalam kegiatan ini terdiri dari Kepala Dinas Perikanan Kota Jayapura, Matheys Sibi, S.ST.Pi., M.Si.; Sekretaris Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan FMIPA Universitas Cenderawasih, Vyona Mantayborbir, S.Pi., M.P.; serta Inspektur Mutu Ahli Pertama pada Balai PPMHKP Jayapura, Muhammad Fachrirozi, S.Pi.

Materi yang disampaikan meliputi kebijakan pembangunan perikanan Kota Jayapura, penerapan sistem rantai dingin dalam penanganan produk perikanan, penerapan sanitasi dan higiene untuk menjaga mutu hasil perikanan, serta proses penurunan mutu produk perikanan.(VN)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *