Paraparatv.id | Jayapura — Merujuk pada rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Januari 2026, seluruh provinsi diwilayah kerja (wilker) Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua secara bulanan mengalami deflasi, kecuali Provinsi Papua Selatan yang mengalami inflasi sebesar 1,06% (mtm).
Hal ini didorong oleh semakin menipisnya stok pangan lokal pasca HBKN Nataru dan ketidakpastian cuaca.
Inflasi tahunan pada bulan Januari 2026 secara agregat tercatat inflasi, menunjukkan adanya peningkatan sebagai dampak dari low-base effect diskon tarif listrik di Januari 2025.
Selain itu, gejolak ketidakpastian global turut mendorong peningkatan harga emas. Berdasarkan kelompoknya, inflasi pada bulan Januari 2026 disebabkan utamanya oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi penyumbang utama inflasi di kawasan ini.
Papua Catat Deflasi 0,36 Persen
Provinsi Papua mengalami deflasi 0,36 persen (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 3,55 persen (yoy). Penurunan harga terutama disumbang oleh angkutan udara (-0,40%), buah pinang (-0,18%), dan tomat (-0,05%).
Sementara itu, sejumlah komoditas seperti kangkung, emas perhiasan, dan ikan tuna justru mengalami kenaikan harga.
Papua Selatan Alami Inflasi 1,06 Persen
Berbeda dengan wilayah lain, Papua Selatan mencatat inflasi 1,06 persen (mtm) dan 4,83 persen (yoy).
Kenaikan harga terutama disebabkan oleh ikan mujair (0,55%), emas perhiasan (0,22%), dan kangkung (0,10%).
Adapun deflasi di wilayah ini dipicu oleh turunnya harga angkutan udara (-0,14%) dan sawi hijau (-0,06%).
Papua Tengah dan Papua Pegunungan Juga Deflasi
Provinsi Papua Tengah mencatat deflasi 0,29 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 4,85 persen (yoy). Penurunan harga dipengaruhi oleh cabai rawit (-0,57%), cabai merah (-0,11%), dan angkutan udara (-0,08%), meskipun harga emas perhiasan dan bawang merah naik.
Sementara itu, Papua Pegunungan mengalami deflasi ringan sebesar 0,05 persen (mtm) dan inflasi tahunan 2,93 persen (yoy). Komoditas cabai rawit (-0,50%) menjadi penyumbang utama penurunan harga, diikuti talas, tomat, dan daging babi. Sebaliknya, ketela rambat dan sawi hijau tercatat mengalami kenaikan harga.
Sinergi Pengendalian Inflasi Diperkuat
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh Papua dan DOB melalui empat pilar strategi pengendalian inflasi:
- Keterjangkauan Harga (K1) — penyusunan kalender tanam dan panen untuk mendukung Gerakan Pangan Murah (GPM).
- Ketersediaan Pasokan (K2) — pemetaan kelompok tani potensial guna menjaga pasokan komoditas strategis.
- Kelancaran Distribusi (K3) — penyaluran sarana prasarana pertanian di Kabupaten Jayawijaya untuk memperkuat rantai pasok pangan.
- Komunikasi Efektif (K4) — edukasi publik melalui media sosial BI serta rapat koordinasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Bank Indonesia berharap langkah sinergis ini dapat menjaga stabilitas harga dan ekspektasi inflasi masyarakat menjelang periode konsumsi tinggi di bulan-bulan mendatang.(Redaksi)
















