Example floating
AdvetorialBERITASosial Budaya

Senator DPD RI Ingatkan Presiden: Jangan Tukar Sawit dengan Anggaran untuk Tanah Papua

9
×

Senator DPD RI Ingatkan Presiden: Jangan Tukar Sawit dengan Anggaran untuk Tanah Papua

Sebarkan artikel ini


Paraparatv.id | Jayapura | Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Agustinus R Kambuaya ( ARK) mengingatkan pemerintah pusat agar tidak menjadikan investasi perkebunan kelapa sawit sebagai “alat tukar” atau kompensasi atas alokasi anggaran pembangunan di Tanah Papua. Pembangunan Papua, tegasnya, adalah kewajiban negara, bukan sesuatu yang harus dibayar dengan pengorbanan hutan dan tanah adat masyarakat.


Dalam pernyataannya, Senator DPD RI Agustinus R Kambuaya menegaskan bahwa anggaran untuk Papua, termasuk Dana Otonomi Khusus (Otsus), merupakan hak konstitusional masyarakat Papua sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pemerintah pusat untuk mengejar ketertinggalan pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.


“Jangan sampai muncul kesan bahwa anggaran untuk Papua harus dibayar dengan membuka izin sawit besar-besaran. Ini keliru. Anggaran itu kewajiban negara, bukan barter dengan hutan dan tanah adat,” ujarnya.sabtu, (24/1/2026)


Ia menilai ekspansi sawit yang tidak terkendali justru berpotensi menimbulkan konflik agraria, perampasan tanah ulayat, kerusakan lingkungan, hingga hilangnya sumber penghidupan masyarakat adat. Kondisi tersebut, menurutnya, bertolak belakang dengan semangat pembangunan berkelanjutan dan perlindungan hak-hak orang asli Papua.


“Kalau hutan hilang, sungai rusak, dan masyarakat adat terusir dari tanahnya, lalu apa arti pembangunan itu? Kita tidak ingin kesejahteran dibayar dengan penderitaan rakyat,” tegasnya.


Senator juga meminta pemerintah pusat dan daerah untuk lebih selektif dalam memberikan izin investasi perkebunan sawit di Papua. Ia mendorong agar pembangunan difokuskan pada sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi lokal, pertanian rakyat, perikanan, dan usaha berbasis kearifan lokal.


Selain itu, ia mengingatkan agar setiap kebijakan investasi wajib melalui persetujuan masyarakat adat (Free, Prior and Informed Consent/FPIC) serta memperhatikan aspek lingkungan hidup.


“Kita mendukung investasi, tetapi harus adil dan berpihak pada rakyat. Jangan sampai Papua hanya dijadikan lumbung lahan bagi korporasi besar, sementara masyarakatnya tetap miskin,” katanya.


Di akhir pernyataannya, Senator berharap Presiden dapat memastikan kebijakan pembangunan Papua benar-benar berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, bukan kepentingan bisnis semata.


“Papua butuh keadilan, bukan barter sawit dengan anggaran,” pungkasnya.(Nesta)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *