Example floating
Peristiwa

Kunjungan Bupati ke Omon Dinilai Sebagai Blunder Fatal

43
×

Kunjungan Bupati ke Omon Dinilai Sebagai Blunder Fatal

Sebarkan artikel ini
Setelah melewati medan yang cukup berat, Bupati Jayapura Yunus Wonda berhasil memasuki Kampung Omon, Distrik Gresi Selatan, dan berbincang dengan warga. Foto: Ari Bagus Poernomo

Paraparatv.id |Sentani| – Di tengah sorotan publik nasional, Bupati Jayapura Yunus Wonda dalam beberapa hari terakhir dielu-elukan bak seorang pahlawan setelah berhasil masuk ke Kampung Omon, Distrik Gresi Selatan. Namun di balik narasi heroik tersebut, perjalanan itu kini dinilai sebagai blunder fatal, menyusul meninggalnya Simon Pampang, staf BPBD Kabupaten Jayapura, di tengah perjalanan menuju kampung terisolir tersebut.

Kunjungan tersebut dinilai tergesa-gesa dan minim perhitungan, seakan dilakukan untuk memadamkan api pemberitaan yang telah terlanjur viral secara nasional. Akibatnya, protokol keselamatan, medis, dan mitigasi risiko diabaikan, hingga berujung pada hilangnya nyawa aparat daerah.

Koordinator Pelayanan Wilayah Tabi Komunitas Medis Papua Tanpa Batas, dr. Rafael Morin, menyampaikan kritik keras terhadap cara perjalanan tersebut dilakukan. Ia menegaskan bahwa akses menuju Kampung Omon adalah medan ekstrem yang tidak bisa diperlakukan seperti kunjungan biasa.

“Masuk ke Omon itu tidak bisa asal masuk. Kami selalu berkoordinasi dengan masyarakat kampung, atur jadwal, cek cuaca, dan memastikan seluruh tim benar-benar sehat sebelum berangkat,” ujar dr. Rafael.

Koordinator Pelayanan Wilayah Tabi Komunitas Medis Papua Tanpa Batas, dr. Rafael Morin.

Ia menekankan bahwa pendampingan tim SAR adalah keharusan mutlak, bukan pelengkap. Menurutnya, tim SAR memiliki kemampuan tindakan awal penyelamatan (life saving) saat terjadi kondisi darurat, termasuk evakuasi, stabilisasi korban, dan pengambilan keputusan cepat di medan sulit.

“Tim SAR tahu apa yang harus dilakukan pertama kali saat ada kondisi darurat di tengah hutan. Tanpa mereka, semua terlambat,” tegasnya.

Lebih lanjut, dr. Rafael juga menyoroti kesalahan fatal dalam aspek medis perjalanan tersebut. Menurutnya, rombongan kepala daerah seharusnya membawa tim medis sendiri dari Sentani, baik dari rumah sakit maupun Dinas Kesehatan, bukan mengandalkan tenaga puskesmas.

“Untuk perjalanan sekelas ini, tim medis harus dibawa dari Sentani, dari rumah sakit atau Dinas Kesehatan. Bukan dari puskesmas, karena kenyataannya tenaga puskesmas sendiri jarang, bahkan hampir tidak pernah, masuk ke Omon,” tegas dr. Rafael.

Ia menilai ketergantungan pada tenaga puskesmas mencerminkan ketidaksiapan dan salah baca risiko, karena medan dan jarak tempuh menuju Omon membutuhkan tenaga medis yang terbiasa menangani kondisi darurat di lapangan ekstrem, termasuk kemampuan mengambil keputusan medis kritis secara cepat.

Selain itu, dr. Rafael kembali menegaskan pentingnya pengawalan masyarakat lokal yang menguasai medan, serta kewenangan medis untuk menghentikan perjalanan jika kondisi fisik peserta tidak memungkinkan.

“Kalau di tengah jalan ada yang sudah tidak sanggup, harus dihentikan. Tidak boleh dipaksakan. Tapi kalau tidak ada tim medis dan SAR yang bisa ambil keputusan, maka semua dipaksa lanjut,” katanya.

dr. Rafael secara terbuka menyebut perjalanan Bupati dan rombongan ke Kampung Omon sebagai sebuah blunder, terlebih karena sebagian pejabat yang ikut tidak memiliki kesiapan fisik dan tidak melalui medical check-up terlebih dahulu.

“Kita tahu tidak semua pejabat punya aktivitas olahraga teratur. Seharusnya dokter menentukan siapa yang mampu dan siapa yang tidak. Ini bukan soal keberanian, tapi soal keselamatan,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan bahwa tragedi ini menjadi kasus pertama orang dari luar Kampung Omon yang meninggal dunia di tengah perjalanan masuk, sebuah fakta pahit yang mencerminkan kegagalan tata kelola kunjungan ke wilayah terpencil.

Sementara itu, Bupati Jayapura dalam pemberitaan sebelumnya menyampaikan duka cita mendalam dan menyebut almarhum Simon Pampang sebagai ASN yang setia menjalankan tugas. Namun tragedi ini memunculkan pertanyaan serius, apakah keselamatan aparat dikorbankan demi kecepatan merespons opini publik dan membangun citra kepemimpinan?

Kematian Simon Pampang menjadi harga mahal dari sebuah kunjungan yang lebih mengedepankan simbolisme ketimbang keselamatan. Peristiwa ini menegaskan bahwa Papua bukan panggung pencitraan, dan medan ekstrem seperti Kampung Omon tidak boleh dijadikan ajang pembuktian politik, karena konsekuensinya adalah hilangnya nyawa manusia. (Arie)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *