Paraparatv.id | Jayapura | Di tengah meningkatnya ancaman terhadap kelestarian alam Papua, generasi muda mulai mengambil langkah konkret untuk menjaga warisan ekologis tanahnya.
Kesadaran bahwa perubahan besar dapat dimulai dari gerakan kecil mendorong berbagai komunitas muda di Jayapura untuk berkolaborasi dalam aksi nyata pelestarian lingkungan, Rabu (05/11/2025).
Melalui inisiatif Ko-Kreasi Lestari, anak-anak muda Papua menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mampu beradaptasi dengan tantangan zaman, tetapi juga berperan aktif dalam menghadapi krisis iklim dan masalah sampah yang kian kompleks di wilayah mereka.
Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem global. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kawasan konservasi seperti Pegunungan Cycloop dan pesisir Jayapura menghadapi tekanan akibat pembukaan lahan, pencemaran air, dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.
Sebagai respon terhadap kondisi ini, lima organisasi anak muda, yaitu Forum Indonesia Muda (FIM) Regional Jayapura, Kaum Muda Foker, Papua Trada Sampah, PAM Klasis Sentani, dan Guardian Holo Sentani, melaksanakan program “Ko-Kreasi Lestari:
Aksi Konservasi Berbasis Orang Muda di Tanah Papua” selama Agustus–Oktober 2025. Program ini melibatkan 364 anak muda dari 20 komunitas yang melakukan aksi di enam titik intervensi di Kota dan Kabupaten Jayapura serta audiensi dengan dinas terkait di berbagai tingkatan.
Ketua panitia dan perwakilan FIM, Farah Arifah Handayani Mandola, mengatakan kegiatan ini memperkuat kolaborasi lintas komunitas dalam menjaga lingkungan.
“Kami menanam 630 pohon dan mengumpulkan 760 kilogram sampah. Tapi bagi kami, aksi bersih-bersih bukan solusi akhir, melainkan bukti bahwa regulasi pengelolaan sampah harus diperkuat. Percuma kita capek bersih-bersih kalau produksi plastik di hulunya tidak dibenahi,” ujarnya.
Sementara itu, Benyamin Yarisetouw, Sekretaris Bappeda Kabupaten Jayapura, menilai peran anak muda sangat penting.
“Pelatihan dan gerakan seperti ini wajib didukung pemerintah dan komunitas. Di lokasi wisata harus ada tempat sampah basah, kering, dan plastik agar jadi standar kebersihan,” tegasnya.
Puncak kegiatan bertajuk “Berbagi API Inspirasi Ko-Kreasi Lestari”, yang didukung New Zealand Embassy melalui Yayasan Sehati Sebangsa Indonesia, menampilkan peluncuran buku “Kitong Punya Aksi”, talk show “Orang Muda Papua Mempertanyakan Keadilan Iklim”, serta Deklarasi Komunitas Muda Lestari Papua.
Acara ini menegaskan komitmen anak muda Papua untuk membangun gerakan konservasi yang berkelanjutan dan berakar pada nilai-nilai lokal. (Keke)
















