Paraparatv.id | Jayapura | Calon Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano (BTM) berjanji akan memberikan insentif bagi Ondofolo dan kepala suku pada pemerintahannya mendatang.
“Kalau saya jadi Gubernur, saya tidak akan lupakan mereka. Setiap kampung harus punya rumah adat, dan Ondofolo serta kepala suku akan kami berikan insentif antara lima sampai sepuluh juta rupiah setiap bulan,” ujar BTM dalam orasi politiknya di Kampung Bukisi, Distrik Yokari, Kabupaten Jayapura, Selasa 15 Juli 2025.
Menurut BTM, Ondofolo, kepala suku, dan struktur adat lain adalah fondasi kehidupan masyarakat Papua yang harus dihormati. Maka itu, ia menilai pentingnya pemimpin yang memahami akar budaya.
BTM juga menegaskan, masa depan Papua harus dibangun oleh anak-anak negerinya, bukan diserahkan pada orang lain.
“Hari ini saya hadir di tempat yang indah, yang Tuhan ciptakan bagi orang Bukisi. Di sini, kita makan dan minum dari alam yang diberkati Tuhan. Maka, kita harus jaga dan rawat tempat ini bersama-sama,” serunya.
BTM hadir di tengah masyarakat Kampung Bukisi bersama istri Kristina Luluporo Mano. Keduanya disambut secara adat oleh masyarakat dari wilayah Demta, Yokari hingga Tanah Merah Barat.
Prosesi sakral itu digelar di Rumah Adat Besar Pioru Asooru, milik suku Deiwasa. Penyambutan ini menjadi bagian penting dari safari politik BTM menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua pada 6 Agustus 2025.
Setibanya di kampung, BTM dan Kristina langsung disambut dengan tarian adat, alunan suling tambur, dan pukulan tifa, sebagai lambang penghormatan dan penerimaan tertinggi menurut adat Tabi.
Dalam ritual adat tersebut, BTM dipakaikan rompi adat dan diberi tifa, alat musik tradisional yang diartikan sebagai simbol komando, suara rakyat, dan kepemimpinan. Sementara Kristina menerima kantong pinang dari tetua adat sebagai bentuk restu dan penerimaan keluarga besar.
Suasana khidmat terasa saat BTM dibawa masuk ke dalam rumah adat dengan iringan doa adat dan lagu Wari, menuju altar utama.
BTM kemudian memukul tifa ke empat penjuru mata angin timur, barat, utara, selatan, sebagai ajakan simbolik kepada seluruh masyarakat Papua untuk bersatu membangun tanah kelahiran mereka.
“Semua datang dari pukulan tifa arah timur, barat, utara, selatan. Saya ajak kita semua bangun Papua bersama-sama,” seru BTM di hadapan masyarakat.
BTM dalam sambutannya menyampaikan pesan warisan dari Batu Peradaban Aitumeri, yang diletakkan Pdt. I.S. Kijne:
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, maka bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri,” ucapnya.
Dihadapan masyarakat, BTM juga memaparkan visi tentang Papua yang maju, mandiri, dan berbudaya, dengan pembangunan yang bertumpu pada kekuatan adat dan jati diri orang asli Papua.
“Lihat hari ini. Saya datang sebagai anak Mamta, anak dari tanah matahari terbit dan saya akan jadi matahari yang menerangi seluruh Tanah Papua,” ucapnya.
Kehadirannya BTM di Kampung Bukisi bukan semata bagian dari kampanye, tapi juga sebagai bentuk rekonsiliasi dan penghormatan terhadap budaya leluhur.
Ini terlihat dari sambutan luar biasa masyarakat, mulai dari prosesi adat, tifa yang ditabuh, hingga tangisan haru para tokoh adat.
Ketua DAS Kampung Mukisi menegaskan dukungan kepada BTM untuk memimpin masyarakat Papua.
“Kami tak butuh pemimpin yang asing bagi tanah ini. Kami mau anak negeri sendiri yang kenal setiap jengkal hutan dan tanah ini,” serunya.
Kehadiran BTM-CK, masyarakat Papua meyakini sebagai simbol harapan baru, pemimpin yang berpihak kepada rakyat, membumi, dan tumbuh dari akar budaya yang kuat. (Er)
















