Paraparatv.id |Sentani| – Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Jayapura, Frangklin Wahey, mengingatkan masyarakat Papua agar tidak terjebak dalam politik identitas menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Gubernur Papua pada 6 Agustus 2025. Ia menegaskan bahwa Papua membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul semua golongan, bukan yang memecah belah masyarakat dengan isu ras dan agama.
Dalam keterangannya di Sentani, Minggu (11/5), Frangklin menyampaikan bahwa Partai Demokrat bersama 16 partai lainnya, termasuk empat partai besar—Golkar, Gerindra, Demokrat, dan PAN—memberikan dukungan penuh kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 2, Mathius Fakhiri dan Aryoko Rumaropen.
“Kami di DPC Demokrat Kabupaten Jayapura sebelumnya telah berhasil memenangkan Pilkada Bupati – Wakil Bupati. Maka dalam Pilkada Gubernur ini, kami semakin solid. Konsolidasi sudah kami lakukan dan terus diperkuat melalui kerja nyata di lapangan,” ujarnya.
Frangklin juga menyatakan bahwa strategi gerilya ke masyarakat tetap berjalan, namun tidak bisa diungkap ke media demi efektivitas pemenangan. “Kami bekerja dengan tenang, tapi kami optimis menang,” katanya.
Menurutnya, pasangan Fakhiri–Rumaropen layak memimpin Papua karena didukung partai-partai besar yang juga menjadi pilar dalam pemerintahan nasional saat ini di bawah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Otomatis, kabinet Merah Putih hari ini adalah representasi dari kekuatan politik pengusung calon nomor urut 2. Ini menjadi landasan kuat untuk membangun Papua secara serius dan berkelanjutan,” jelas Frangklin.
Ia menekankan bahwa pemilihan gubernur harus difokuskan pada visi membangun Papua, bukan soal suku, agama, atau ras. “Ini bukan pemilihan kepala kampung atau tokoh adat. Kita memilih gubernur yang akan menyentuh sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur rakyat,” tegasnya.
Frangklin juga menyerukan kepada masyarakat agar tidak terprovokasi oleh isu rasisme yang hanya akan merusak persatuan. “Pemimpin sejati adalah yang merangkul, bukan memecah belah. Papua milik kita bersama, tidak peduli warna kulit atau jenis rambut. Mari kita jaga kedamaian dan fokus pada kesejahteraan,” pungkasnya.
Pernyataan Frangklin Wahey menjadi pesan kuat agar masyarakat menggunakan hak pilih secara bijak dan tidak terpengaruh oleh narasi-narasi negatif yang tidak membawa kemajuan bagi Tanah Papua. (Arie)
















