Paraparatv.id |Sentani| – Kondisi memprihatinkan ditemukan di SD Negeri Batu Putih, Kampung Ayapo, Distrik Sentani Timur. Sekolah negeri yang seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai-nilai kebangsaan justru tidak memiliki simbol-simbol negara yang paling mendasar.
Temuan ini diungkap langsung oleh Wakil Ketua III DPRK, Nelson Ondi, saat melakukan kunjungan lapangan. Ia mendapati tidak adanya tiang bendera maupun lambang negara di lingkungan sekolah tersebut.
“Ini sangat memalukan. Sekolah negeri tapi tidak ada tiang bendera dan lambang negara. Ini bukan hal sepele, ini menyangkut bagaimana negara hadir dalam dunia pendidikan,” tegas Nelson Ondi.
Ia menilai, ketiadaan simbol negara bukan sekadar persoalan fasilitas, tetapi mencerminkan lemahnya perhatian terhadap pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan.
Dari enam ruang kelas yang ada, hanya satu ruang yang memajang gambar Presiden Republik Indonesia, yakni Presiden ke-7, Joko Widodo. Sementara lima ruang kelas lainnya tidak memiliki simbol kenegaraan sama sekali, termasuk lambang negara Garuda Pancasila yang seharusnya menjadi identitas wajib di setiap ruang belajar.
Lebih jauh, ketiadaan tiang bendera berdampak pada tidak pernah dilaksanakannya upacara bendera. Sejumlah siswa mengaku bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan tersebut tidak pernah dilakukan.
“Sudah lama tidak pernah upacara,” ujar seorang siswa.
Padahal, upacara bendera bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan sarana penting untuk menanamkan disiplin, penghormatan terhadap negara, serta membangun identitas nasional sejak usia dini.
Nelson Ondi pun mempertanyakan peran dan pengawasan dari pihak terkait, khususnya dinas pendidikan.
“Kalau simbol negara saja tidak ada, ini menunjukkan ada pembiaran. Di mana pengawasan? Ini harus jadi perhatian serius. Jangan sampai anak-anak kita tumbuh tanpa pemahaman kebangsaan yang kuat,” ujarnya dengan nada tegas.
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan rendahnya kehadiran tenaga pengajar. Pada hari pertama masuk sekolah pasca libur Lebaran, Senin (30/3/2026), siswa yang datang bahkan tidak menemukan satu pun guru di sekolah.
Seorang siswa mengungkapkan bahwa kondisi tersebut bukan hal baru. “Guru jarang datang,” katanya singkat.
Situasi ini memperlihatkan potret ganda persoalan pendidikan, di satu sisi, absennya simbol negara yang menjadi fondasi pembentukan karakter, dan di sisi lain lemahnya disiplin tenaga pendidik yang berdampak langsung pada proses belajar mengajar.
Temuan ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Tanpa intervensi serius, kondisi seperti ini tidak hanya mengancam kualitas pendidikan, tetapi juga berpotensi melemahkan fondasi kebangsaan generasi muda di daerah tersebut. (Arie)


















