Paraparatv.id | Korowai | Hasil Olah TKP Tragedi Smart Air, Aparat kepolisian Temukan 13 Lubang Peluru di Badan Pesawat yang ditembaki saat mendarat di Bandara Korowai Batu,Distrik Yaniruma,Kabupaten Boven Digoel,Papua Selatan,Jumat (13/2/2026), dalam insiden tersebut menewaskan Pilot dan Copilot.
Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, memaparkan hasil terbaru olah tempat kejadian perkara (TKP).
“Dari hasil olah TKP, keterangan saksi, dan barang bukti yang ditemukan di lokasi, kami menyimpulkan terdapat 13 lubang bekas proyektil pada badan pesawat,” ujar Yusuf.
Ia menjelaskan, peristiwa terjadi saat pesawat mendarat di Bandara Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, dan bergerak menuju apron setelah menurunkan penumpang dari Tanah Merah. Pada saat bersamaan, penumpang yang hendak melanjutkan penerbangan menuju Dekai, Yahukimo, bersiap naik.
Sekitar 20 orang pelaku tiba-tiba menyerang menggunakan senjata api dan senjata tajam. Penumpang yang telah turun maupun yang akan berangkat panik dan berlarian menyelamatkan diri. Dalam situasi tersebut, pilot dan kopilot dikejar hingga akhirnya ditembak di dekat runway.
“Kesaksian kami peroleh dari para penumpang yang selamat. Mereka berada di sekitar bandara saat kejadian dan melihat langsung peristiwa tersebut,” jelas Yusuf.
Pengamanan Bandara dan Pengejaran Pelaku
Bandara Korowai Batu merupakan bandara perintis yang selama ini tidak memiliki pengamanan tetap. Pascainsiden, Satgas Damai Cartenz menerjunkan 29 personel untuk mengamankan area sekaligus menjaga pesawat yang masih berada di lokasi sambil menunggu teknisi maskapai.
Pengamanan dilakukan secara tentatif sesuai perkembangan situasi. Penyisiran telah dilakukan dan untuk sementara belum ditemukan keberadaan kelompok bersenjata di sekitar lokasi.
“Hingga saat ini kami masih melakukan pengejaran. Berdasarkan investigasi awal, pelaku diduga melarikan diri ke arah Yahukimo karena posisi bandara berbatasan langsung dengan wilayah tersebut,” tegas Yusuf.
Langkah ini diambil untuk memastikan jalur transportasi udara perintis yang menjadi akses vital distribusi logistik dan mobilitas warga pedalaman dapat kembali berjalan aman.(Er)
















