Paraparatv.id |Sentani| — Puluhan perempuan Papua turun ke jalan sekitar Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Kamis malam dalam aksi 1.000 lilin sebagai bentuk solidaritas dan seruan perubahan layanan kesehatan di Papua. Aksi ini menyusul meninggalnya Irene Sokoy, seorang ibu hamil Papua, bersama bayinya dalam kandungan setelah ditolak oleh empat rumah sakit di Kota Jayapura pada Minggu, 17 November 2025.
Berbagai komunitas perempuan, aktivis, dan warga dari Kota serta Kabupaten Jayapura hadir menyalakan lilin sebagai simbol duka dan perlawanan atas kejadian yang dianggap tidak manusiawi. Para peserta menyerukan agar sistem pelayanan kesehatan di Papua tidak lagi mengabaikan keselamatan orang asli Papua.
Koordinator aksi, Dhortea Wally, mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif bersama sebagai bentuk keprihatinan mendalam.
“Aksi ini adalah inisiatif dari semua perempuan yang ada di Papua, terutama di Kabupaten Jayapura, untuk menyatakan bahwa kami berduka atas insiden kemarin. Almarhumah Irene Sokoy meninggal,” ujar Dhortea.
Dhortea menambahkan komunitas perempuan berencana menyampaikan aspirasi ke DPR untuk mendorong tindak lanjut. Meski demikian, pihak keluarga masih berduka dan tengah menyiapkan langkah hukum.
“Kami siap kawal. Belum ada informasi kapan proses hukum dimulai. Setelah pengucapan syukur, kami akan bertemu lagi dengan keluarga,” katanya.
Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), Febiola Ohee, yang turut hadir dalam aksi, menyampaikan belasungkawa serta menjelaskan bahwa upaya investigasi telah digerakkan sebelum kasus ini viral.
“Sebelum kasus ini viral, saya melapor ke Menteri. Mendagri kemudian menghubungi Gubernur, dan gubernur datang ke keluarga korban. Kami turun ke lapangan untuk investigasi mendalam,” jelasnya.
Menurut Febiola, kepolisian telah menurunkan tim dari Ditintel, Ditkrimsus, Ditkrimum, serta Irwasda guna mengusut dugaan kelalaian.
“Kami bekerja sama untuk membongkar kesalahan yang terjadi agar tidak ada lagi kejadian yang sama,” lanjutnya.
Selain itu, MRP juga akan menemui BPJS dan pihak Rumah Sakit Dok II Jayapura untuk menelusuri persoalan sistem rujukan dan administrasi yang dinilai berdampak langsung pada keselamatan pasien.
Tuntutan Aksi
Peserta aksi 1.000 lilin menyuarakan sejumlah tuntutan yang menekankan pembenahan sistem kesehatan dan keadilan bagi korban:
- Penegakan hukum yang adil dan transparan terhadap empat rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bertugas pada malam Irene ditolak. Keluarga telah menunjuk kuasa hukum.
- Investigasi menyeluruh oleh aparat—kepolisian, kejaksaan, dan otoritas terkait—agar kasus tidak berhenti sebagai tragedi tanpa pertanggungjawaban.
- Tuntutan adat Suku Sentani, berupa mahar harta adat, uang Rp3 miliar (Rp1 miliar untuk ibu dan Rp2 miliar untuk bayi), serta 100 ekor babi jantan.
- Pertanggungjawaban pimpinan RS Yowari dan tenaga medis yang bertugas pada 17 November 2025.
Peserta aksi menegaskan bahwa jika tuntutan tersebut tidak ditindaklanjuti, mereka siap kembali turun ke jalan. Tragedi ini dinilai sebagai alarm darurat untuk mereformasi layanan kesehatan Papua agar tidak lagi mengabaikan keselamatan dan martabat orang asli Papua.(Arie)

















