Example floating
Peristiwa

Drainase Rusak, Jalan Hancur: Potret Pasar Lama Sentani yang Kian Terlupakan

210
×

Drainase Rusak, Jalan Hancur: Potret Pasar Lama Sentani yang Kian Terlupakan

Sebarkan artikel ini
Sejumlah kendaraan yang melintas di jalan rusak yang ada di Pasar Lama Sentani. Foto : Ari Bagus Poernomo

Paraparatv.id |Sentani| – Setiap kali hujan turun di Sentani, Pasar Lama berubah menjadi kubangan air. Genangan menutup jalan, lumpur bercampur sampah menumpuk di pinggir kios, dan pedagang sibuk memindahkan barang agar tak terendam. Kawasan yang dulu menjadi jantung ekonomi Kabupaten Jayapura itu kini lebih mirip kolam daripada pasar.

Ironisnya, di tengah genangan yang belum surut ini, muncul wacana pembangunan dengan “ide gila” dari Bupati Jayapura, Yunus Wonda, untuk tahun 2026 mendatang. Jika benar ide-ide besar akan dieksekusi tahun depan, publik tentu berhak bertanya, apakah Pasar Lama yang becek ini termasuk dalam ide gila itu, atau masih terlalu waras untuk diperbaiki.

Kerusakan drainase dan jalan di Pasar Lama bukanlah cerita baru. Tahun demi tahun, keluhan warga dan pedagang menguap tanpa tindakan nyata. Proyek perbaikan saluran air sudah dibahas berulang kali, namun hingga kini tak ada hasil yang jelas. “Drainase di Pasar Lama memang menjadi perhatian, namun masih dalam tahap pembahasan dengan instansi terkait,” ujar Kepala Seksi Pembangunan Peningkatan Prasarana Sumber Daya Air, Yustus Waroy, S.T., Rabu (8/10).

Menurut Yustus, persoalan utama terletak pada tumpang tindih kewenangan antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan balai jalan nasional. “Kalau kita masuk ke Pasar Lama Sentani, itu tanggung jawab kabupaten dan juga provinsi. Rencana memang ada, tapi untuk jalan saya belum dapat info pastinya. Kalau drainase, dari bidang Bina Marga sedang melakukan perencanaan,” katanya.

Ia menambahkan, gorong-gorong beton untuk drainase bahkan sudah dicetak sejak tahun lalu, namun pelaksanaannya terhambat karena tarik menarik kepentingan dan adanya pemilik hak ulayat di sekitar kawasan pasar. “Waktu itu ada tarik menarik dari pihak ketiga, tapi dari sini kan ada pemilik hak ulayat, sehingga proses normalisasi terkendala,” jelasnya.

Masalah ini makin rumit karena Pasar Lama berada di wilayah yang menjadi irisan tanggung jawab antara provinsi dan kabupaten. Akibatnya, perencanaan pembangunan sering berhenti di meja koordinasi. “Masalah pembangunan di sini sering terhambat, tapi kalau ada anggaran dan koordinasi yang baik, tentu bisa terealisasi,” ujar Yustus.

Kondisi di lapangan pun kian memperihatinkan. Saluran air yang ada sudah dangkal dan tersumbat. Air hujan tak punya tempat mengalir, akhirnya meluap ke jalan utama dan area pasar. Bau tak sedap kerap muncul, sementara jalan yang rusak membuat kendaraan sulit melintas. Pedagang harus bertahan di tengah becek dan genangan setiap kali hujan deras mengguyur Sentani.

Bagi warga, Pasar Lama bukan sekadar tempat berdagang, tetapi sumber kehidupan. “Kalau hujan, air dari got naik ke tempat jualan. Kita sudah biasa, tapi capek juga setiap kali bersihkan,” kata Maria Waromi, pedagang ikan yang berjualan di bagian depan pasar, saat ditemui paraparatv.id beberapa waktu lalu.

Ia mengaku banyak pembeli memilih menjauh saat musim hujan karena kondisi pasar yang kotor dan becek.

Ketua Aliansi Sentani Bersatu Sejahtera, Jhon Maurits Suebu, menilai pemerintah daerah telah mengabaikan kawasan yang menjadi denyut ekonomi rakyat itu. “Pasar Lama itu pusat perekonomian rakyat, tapi seperti dibiarkan rusak. Pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada proyek besar, tapi memperhatikan tempat yang jadi sumber ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Kerusakan jalan di sekitar pasar juga memperburuk situasi. Aspal yang retak dan berlubang membuat akses keluar-masuk kendaraan terganggu. Genangan air dari drainase yang tersumbat mempercepat kerusakan, menjadikan kawasan ini semakin sulit dilalui. Pedagang pun harus menanggung dampaknya: dagangan sepi, penghasilan menurun, dan lingkungan pasar makin tidak nyaman.

Bukan hanya ekonomi yang terganggu, tetapi juga kesehatan masyarakat. Genangan air yang dibiarkan berhari-hari menjadi sarang nyamuk dan sumber penyakit. “Sekarang orang lebih suka belanja di tempat lain karena pasar kotor dan jalannya rusak,” keluh seorang pedagang sayur.

Meski demikian, pemerintah kabupaten melalui bidang Bina Marga disebut masih berupaya mendorong perbaikan drainase Pasar Lama. Menurut Yustus, langkah awal sudah dilakukan lewat perencanaan teknis dan pencetakan gorong-gorong beton. “Kalau sudah ada kepastian siapa yang tangani dan dukungan anggarannya jelas, tentu saja drainase bisa segera diperbaiki,” ujarnya.

Namun bagi warga, harapan itu terasa jauh. Sementara pemerintah sedang menyiapkan “ide gila” untuk pembangunan 2026, jalan dan drainase Pasar Lama bahkan belum cukup beruntung untuk masuk daftar rencana yang waras. Genangan di kawasan itu menjadi simbol bahwa di tengah ambisi besar dan slogan pembangunan megah, masih ada sudut-sudut kecil yang dibiarkan tenggelam oleh birokrasi dan abai kebijakan.

Selama pemerintah belum berani mengambil keputusan tegas soal kewenangan dan pelaksanaan, Pasar Lama Sentani akan tetap menjadi simbol pembangunan yang terjebak dalam genangan  penuh rencana, minim tindakan, dan mungkin terlalu sederhana untuk masuk dalam kategori “ide gila.” (Arie/Keke)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *