Example floating
KABAR SENTANIPendidikan

Warga Benyom Keluhkan Pendidikan, Nelson Ondi Soroti Kebijakan Beasiswa Rp. 100 Miliar

1189
×

Warga Benyom Keluhkan Pendidikan, Nelson Ondi Soroti Kebijakan Beasiswa Rp. 100 Miliar

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua III DPRK Jayapura, Nelson Yohosua Ondi saat bercengkrama dengan masyarakat di Kampung Benyom Jaya, Distrik Nimbokrang, Jumat 5 Agustus 2025.

Paraparatv.id | Sentani | – Persoalan pendidikan kembali menjadi sorotan warga Kampung Benyom, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Dalam kunjungan kerja Wakil Ketua III DPRK Jayapura, Nelson Yohosua Ondi, pada Jumat (5/9/2025), warga menyampaikan keluhan terkait pelayanan sekolah dasar yang dinilai tidak berjalan optimal.

Seorang warga Kampung Benyom, Demianus Kekri, mengungkapkan anak-anak di kampungnya terpaksa bersekolah ke SD Inpres di kampung sebelah meski di Benyom sendiri sudah ada sekolah. Hal itu terjadi karena kualitas pelayanan sekolah di kampungnya tidak sesuai harapan.

“Di kampung kami ada sekolah yang jaraknya hanya 200 meter dari rumah, tapi anak-anak harus pergi jauh ke kampung sebelah. Guru biasanya datang jam 09.00 dan sudah pulang jam 11.30, jadi orang tua lebih memilih sekolahkan anak ke tempat lain. Kami khawatir anak-anak makin tertinggal,” ujar Demianus.

Demianus Kekri, warga Distrik Nimbokrang saat menyampaikan aspirasinya kepada Wakil Ketua III DPRK Jayapura.

Ia menambahkan, salah satu alasan guru tidak maksimal mengajar adalah ketiadaan rumah dinas di sekitar sekolah. Guru terpaksa menempuh jarak jauh setiap hari, sehingga tidak bisa hadir tepat waktu. Warga pun meminta DPRK Jayapura memperjuangkan solusi agar layanan pendidikan bisa berjalan dengan baik.

Menanggapi keluhan tersebut, Nelson Yohosua Ondi menyebut persoalan serupa juga terjadi di beberapa kampung lain, bahkan dalam kondisi yang lebih memprihatinkan. Ia menilai masalah pendidikan dasar harus menjadi prioritas utama, bukan hanya menggelontorkan dana besar untuk beasiswa.

“Hal yang sama saya lihat di sekolah YPK Berap, kondisinya bahkan lebih miris. Sementara itu, pemerintah daerah berencana mengalokasikan Rp100 miliar untuk beasiswa, tapi hak guru dan pegawai saja tidak dibayarkan dengan baik. Ini jelas tidak masuk akal,” tegas Nelson.

Menurutnya, akar masalah lemahnya kualitas pendidikan di kampung-kampung bukan semata pada ketiadaan dana beasiswa, melainkan fasilitas dasar yang belum terpenuhi. “Daripada uang Rp100 miliar dipakai untuk beasiswa, lebih baik bangun rumah dinas untuk guru supaya mereka bisa mengajar dengan baik. SDM anak-anak harus dibentuk dari pendidikan dasar dulu, baru kemudian kita bicara perguruan tinggi,” pungkasnya.

Dengan adanya aspirasi masyarakat dan perhatian DPRK Jayapura, warga Benyom berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki layanan pendidikan di kampung-kampung, sehingga anak-anak Papua tidak lagi dirugikan oleh sistem yang timpang. (Arie)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *