Sita dan Marisi, dua suku yang mendiami belantara Kaureh dan Airu rindukan sentuhan pembangunan di daerah yang terasing.
Catatan : Ari Bagus Poernomo
DI BALIK rimbunnya kanopi hutan Jayapura yang misterius, sebuah fakta getir terpampang nyata, ada sebidang bumi yang seolah terlupa, terpisah dari denyut peradaban modern. Bukan sekadar keterpencilan geografis, ini adalah cerminan sebuah eksistensi yang terkoyak dari garis waktu, di mana pembangunan hanya menjadi dongeng yang tak pernah tiba. Ironisnya, di tengah gelegar program-program modernisasi, masih ada jiwa-jiwa yang terpaksa beranjak dari tanah leluhur, mengungsi ke pinggiran, hanya demi mencicipi seberkas harapan dari dunia luar.
Cerita memilukan ini berpusat pada Suku Sita dan Marisi, nama yang mungkin asing di telinga publik. Kampung mereka, sebuah kantung kehidupan yang begitu murni, terletak jauh di relung terdalam hutan, menjadi pembatas tak kasat mata antara Distrik Kaureh dan Airu. Mereka adalah saksi bisu dari ironi pembangunan, begitu sempurna keterisolasian mereka, hingga nama dan jejak kehidupan suku ini nyaris terhapus dari ingatan kolektif, seolah lenyap ditelan keheningan rimba raya Papua yang perkasa.
Minggu, 13 Juli 2025, menjadi penanda sebuah titik balik, sebuah momen ketika suara-suara yang selama ini teredam, akhirnya berani lantang menyuarakan harapan. Di Kampung Soskotek, Distrik Kaureh sebuah titik pertemuan antara dua dunia para perwakilan masyarakat adat Suku Sita dan Marisi muncul dengan tekad bulat, mengikrarkan kesiapan mereka untuk menyambut program transmigrasi. Bukan sekadar proyek pemerintah, ini adalah jembatan impian untuk memutus rantai isolasi yang telah membelenggu mereka selama generasi, sebuah jalan menuju pembangunan yang selama ini hanya menjadi bisikan angin.
Dengan sorot mata penuh ketulusan, Yahya Marisi, Pemilik Hak Ulayat Suku Sita Marisi, membuka hati dan tanah adat mereka. “Kami dari masyarakat adat, Suku Besar Sita Marisi, siap membuka diri, siap menerima kehadiran saudara-saudara kami melalui transmigrasi di tanah ulayat kami. Kami bahkan telah siapkan dua lokasi yang strategis,” tuturnya, seolah mengundang dunia untuk menyaksikan kekayaan tersembunyi yang mereka miliki.
Lahan yang telah dipersiapkan terhampar di pinggiran Martaru yang masih perawan, serta di sekitar Brititi, dekat aliran Mamberamo yang mengalirkan kehidupan dan cerita kuno.
“Di sana, hutan membentang luas tanpa jejak peradaban modern, tanpa kepulan asap, tanpa deru mesin, hanya melodi alam yang berbisik. Ini adalah permata yang belum tersentuh,” tambah Marisi, melukiskan potret keterpencilan yang begitu dalam.

Kerinduan yang mengakar akan pembangunan adalah pendorong utama di balik keputusan heroik ini. Masyarakat Suku Sita dan Marisi merasa terpinggirkan, terlewatkan dari jangkauan kemajuan, seolah hidup di lembar sejarah yang berbeda.
“Yang pertama dan utama, kami butuh sebuah jalan yang menembus belantara dari Distrik Kaureh hingga Mamberamo. Sebuah arteri kehidupan yang selama ini absen dari sentuhan pemerintah Kabupaten Jayapura,” keluhnya. Ada nada kepedihan ketika ia menyoroti pembangunan yang terkesan ‘pilih kasih’, hanya berpusat di beberapa titik, meninggalkan wilayah mereka dalam bayang-bayang ketertinggalan. “Kami mendambakan jalan masuk agar lahan kami yang subur dapat diolah, dan hasil kerja keras kami dapat dinikmati. Kami ingin merasakan apa itu kesejahteraan dan kemandirian, bukan lagi sebatas impian yang tak pernah tergapai.”
Membangun Kembali Akar di Tanah Leluhur: Sebuah Janji Masa Depan
Senada dengan kepedihan Yahya Marisi, Yulianus Sita, seorang putra intelektual Suku Sita Marisi yang merasakan getirnya perantauan, mengungkapkan bagaimana banyak anggota suku mereka terpaksa mencabut akar identitas, berpetualang ke distrik lain di Jayapura, bahkan hingga ke Kabupaten Mamberamo Raya, hanya demi mencari secercah asa pembangunan yang tak kunjung tiba di tanah kelahiran.
“Kami, sebagai keluarga besar Sita Marisi, mendukung program transmigrasi ini dengan segenap jiwa dan raga. Ini bukan sekadar program, ini adalah oase di tengah gurun isolasi yang telah lama kami arungi. Ini adalah kesempatan emas untuk membuka portal menuju kehidupan yang lebih baik, dengan infrastruktur dan tempat tinggal yang layak, yang selama ini hanya menjadi ilusi,” jelas Yulianus, dengan tatapan yang menyiratkan harapan yang membuncah.

Baginya, transmigrasi adalah lebih dari sekadar pembangunan fisik, ini adalah restorasi martabat dan penumbuh semangat untuk kembali.
“Ini adalah kesempatan emas untuk kembali ke pangkuan tanah leluhur, bukan lagi sebagai pengungsi di negeri sendiri, melainkan sebagai pemilik sah yang akan membangun masa depan gemilang,” tuturnya penuh semangat.
Dua lokasi yang strategis, di pinggiran Martaru dan Brititi, telah disiapkan, tanpa memandang jenis transmigrasi, selama mampu membawa perubahan signifikan dan mengakhiri keterasingan abadi mereka.
“Kami menyadari ada kekhawatiran dari sebagian pihak yang menolak program ini, namun kami meyakini bahwa dengan niat suci dan sinergi yang kuat dari pemerintah, impian kami untuk terhubung dengan dunia luar akan terukir menjadi kenyataan,” ujar Yulianus, mengakui tantangan di depan mata, namun bertekad untuk melangkah maju demi memecah belenggu isolasi.
Gema dari Parlemen: Mengangkat Suara yang Terlupakan
Dukungan untuk mengakhiri drama isolasi Suku Sita dan Marisi melalui program transmigrasi juga menggema dari senayan daerah. Origenes Seh, Anggota DPRK Jayapura yang mewakili daerah pengangkatan 4 sebuah wilayah yang ironisnya juga meliputi Unurumguay, Yapsi, Kaureh, dan Airu dengan tegas menyatakan komitmennya.
“Sebagai wakil rakyat, ini adalah amanah suci yang harus saya junjung tinggi dan perjuangkan. Secara pribadi dan kelembagaan, kami akan mengawal setiap aspirasi ini hingga terwujudnya program transmigrasi yang dinanti,” tegasnya.
Origenes tak bisa menyembunyikan rasa mirisnya. Di usia kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi mencapai delapan dekade, masih ada segmen masyarakat yang hidup terasing, seolah terlempar dari garis waktu pembangunan. “Membuka isolasi di wilayah ini membutuhkan energi luar biasa, sebuah terobosan yang tak bisa dilakukan sendiri. Program transmigrasi adalah salah satu jalan paling realistis untuk merangkul mereka kembali ke pangkuan negara,” tandasnya.

Ia telah memiliki sebuah “grand design” yang ambisius untuk masa depan wilayah tersebut, dan secara proaktif telah mengajak masyarakat untuk bergandengan tangan mendukung program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. “Masyarakat di wilayah pembangunan 4 telah dengan sukarela menyediakan beberapa titik untuk transmigrasi, sebagai bukti nyata keseriusan dan kerinduan mereka akan perubahan. Ini adalah momentum krusial untuk mengakhiri ketidakadilan pembangunan yang telah lama berakar,” pungkasnya. Origenes Seh berjanji akan menyampaikan aspirasi ini secara langsung ke Kementerian Transmigrasi, mengetuk pintu Dirjen Pengembangan dan Perluasan Wilayah Kawasan Transmigrasi, memastikan suara Suku Sita dan Marisi didengar di tingkat tertinggi.
Di balik misteri hutan Jayapura, sebuah harapan baru kini mulai mekar, memecah kesunyian yang telah lama berkuasa. Dengan dukungan tak tergoyahkan dari masyarakat adat dan komitmen kuat dari perwakilan legislatif, mimpi akan pembangunan yang merata dan terbukanya isolasi bukan lagi sekadar khayalan, melainkan sebuah takdir yang semakin mendekat. (***)














