Example floating
Advetorial

PLBN Skouw Dorong Potensi Wisata di Kawasan Perbatasan RI-PNG

290
×

PLBN Skouw Dorong Potensi Wisata di Kawasan Perbatasan RI-PNG

Sebarkan artikel ini

Paraparatv.id | Jayapura | Pos lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang dikelola BNPP RI mendorong pengembangan potensi pariwisata di Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

Hal ini terungkap dalam forum diskusi pendampingan yang melibatkan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu 2 Juli 2025. Kegiatan ini bertujuan menyerap aspirasi masyarakat adat guna mengoptimalkan pengembangan pariwisata, dengan harapan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal di kawasan perbatasan.

Diskusi yang berlangsung di Kantor Kampung Mosso dan dibuka oleh Kepala Kampung Mosso, Billiam Wepa Foa, menampilkan pemaparan awal dari Dosen ITB Ninik Suhartini dan Isnu Pratama mengenai tujuan forum. Sesi pertama menjadi wadah bagi tokoh adat dan masyarakat Kampung Mosso untuk menyampaikan aspirasi mereka. Potensi wisata seperti kolam air panas, kolam air berwarna hijau, air terjun, kolam pemancingan, dan desa adat disebut-sebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan kemampuan masyarakat dalam mengolah potensi serta kurangnya perhatian dari pemerintah.

Ketua Pokdarwis Kampung Mosso, Abner Rehwi, menyoroti mindset masyarakat yang masih perlu ditingkatkan dalam pengelolaan pariwisata. Sementara itu Oscar, Ketua RW 1, menambahkan bahwa usulan pengembangan pariwisata telah disampaikan ke pemerintah dan sangat membutuhkan dukungan penuh.

Sesi kedua diskusi melibatkan dialog antara tim ITB dengan Kepala Kampung Mosso, PLBN Skouw, dan CIQS. Kasubid Pengembangan Kawasan PLBN Skouw, Muammar Asrawi memaparkan potensi pariwisata di Distrik Muara Tami, khususnya sekitar area PLBN Skouw, termasuk rencana pembukaan “tebing karang” sebagai objek wisata baru. Ia menegaskan, pemerintah perlu menciptakan regulasi yang jelas untuk potensi wisata yang ada di Kampung Mosso. Ia secara khusus menekankan pentingnya regulasi pemerintah untuk mendukung pembukaan wisata baru dan mengatasi kurangnya informasi yang sampai ke wisatawan luar daerah.

Perwakilan Imigrasi, Yosafat, menggaris bawahi pentingnya mempromosikan wisata Skouw agar dapat dikunjungi masyarakat luar negeri. Kemudahan akses keimigrasian bagi masyarakat juga menjadi perhatian, di samping pentingnya pengurusan izin pariwisata kepada masyarakat setempat terkait hak wilayah guna mencegah konflik.
Dari sisi Bea Cukai, perwakilan Syors Kespo menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah membangun ekonomi melalui pariwisata. Ia menekankan perlunya melibatkan suku-suku yang memegang potensi pariwisata di kampung wisata. Namun, tantangan infrastruktur masih ada. Herman dari RRI menyarankan fokus pembangunan pada wilayah yang sudah ada, termasuk optimalisasi pasar lokal.

Di tempat terpisah, Kepala Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Ni Luh Puspa Jayaningsih, mengapresiasi forum diskusi tersebut, ia menyampaikan bahwa PLBN Skouw mendukung pengembangan wisata di kawasan perbatasan.

Menurutnya, kegiatan yang melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB), pemerintah daerah, dan masyarakat adat ini merupakan langkah untuk mengoptimalkan potensi pariwisata di wilayah perbatasan RI-PNG. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antarlembaga. Menurutnya diskusi tersebut menunjukkan bahwa banyak tantangan yang harus dihadapi bersama, mulai dari minimnya informasi ke wisatawan, hingga masalah infrastruktur dan mindset masyarakat. Oleh karena itu perlunya kolaborasi, jelasnya.

Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menyusun pengembangan pariwisata berkelanjutan dikawasan perbatasan, didukung oleh sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, dan akademisi dari ITB.

Turut Hadir dalam Forum diskusi tersebut Prof. Ir. Heru Purboyo Hidayat Putro, DEA (Guru Besar ITB), Bob Hendro Fonataba (Kepala Distrik Muara Tami), Dr. Ninik Suhartini (Dosen ITB), Dr. Isnu Pratama (Dosen ITB), Warsonah (Plt. Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Jayapura), Muhammad Chalid (Kasie Bina Ekraf Berbasis Media, Desain & IPTEK, Bidang Ekraf, Dinas Pariwisata Kota Jayapura), Juhensar Toefer (Kasie Promosi dan Pemasaran Ekraf, Bidang Ekraf, Dinas Pariwisata Kota Jayapura), Billiam Wepa Foa (Kepala Kampung Mosso), Thomas Wepa Foa (Ketua Adat Kampung Mosso), Abner Rehwi (Ketua Pokdarwis Kampung Mosso), Paulina Rehwi (Ketua Tokoh Perempuan Kampung Mosso).(*Anton Sudanto).

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *