Example floating
Peristiwa

Harapan Warga Kampung Nelayan Kepada MDF : Ekonomi Berkelanjutan, Pendidikan, dan Lingkungan Bersih

175
×

Harapan Warga Kampung Nelayan Kepada MDF : Ekonomi Berkelanjutan, Pendidikan, dan Lingkungan Bersih

Sebarkan artikel ini
Warga Kampung Nelayan Hamadi, Jayapura Selatan.

Paraparatv.id |Jayapura| – Suasana Kampung Nelayan Hamadi di Jayapura Selatan tampak berbeda pada Jumat sore, 16 Mei 2025. Kunjungan Mathius D. Fakhiri (MDF) ke musala kampung disambut antusias oleh warga. Pemukiman yang berada di tepi pantai itu tampak penuh sesak, warga berbondong-bondong datang untuk bersalaman dan mengabadikan momen bersama tokoh asal Papua tersebut.

Dalam pertemuan di dalam musala, sejumlah warga berdialog menyampaikan harapan dan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Mulai dari keterbatasan infrastruktur, pendidikan, persoalan lingkungan, hingga peredaran barang terlarang di kampung mereka.

Kartika Sari, salah satu warga, menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendekatan green economy dan blue economy. Ia berharap pemberdayaan ibu rumah tangga melalui UMKM dapat mendorong ekonomi berkelanjutan, dan potensi hasil laut dapat dikelola dengan lebih bijak.

“Perahu nelayan tidak memadai, rumah-rumah banyak yang rusak, dan anak-anak lulusan SMA-SMK tidak bisa lanjut kuliah karena kendala biaya. Kalau kampung ini diarahkan ke green dan blue economy, maka ekonomi bisa tumbuh tapi lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.

Green economy mengacu pada model pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, rendah emisi, dan efisien dalam penggunaan sumber daya. Sementara blue economy lebih spesifik pada pemanfaatan potensi laut dan pesisir secara berkelanjutan, yang sangat relevan dengan kehidupan warga Kampung Nelayan Hamadi.

Kartika juga menyoroti persoalan sampah rumah tangga yang dibuang langsung ke laut. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah agar limbah tidak terus mencemari pesisir.

Persoalan lain yang mencuat adalah soal keamanan sosial. Haji Muhammad Bakri mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya peredaran minuman keras dan narkoba di lingkungan mereka. Ia mengatakan laporan warga kerap tidak ditanggapi serius oleh aparat.

“Kami sudah sering melapor ke pihak berwajib, tapi tanggapannya kurang. Kami butuh pemimpin yang serius memberantas barang-barang terlarang ini, supaya anak-anak muda kami tidak terjerumus,” katanya.

Sementara itu, Toni Aibini, warga Kampung Nelayan Hamadi lainnya, yang ditemui sehari setelah kunjungan, menyampaikan harapan sekaligus rasa kecewa. Ia menilai banyak warga kampung yang tidak mendapat kesempatan untuk berbicara langsung karena interaksi lebih banyak dilakukan dengan kelompok tertentu.

“Saya sedikit kecewa karena banyak warga kampung tidak dilibatkan langsung. Tapi saya tidak berkecil hati. Saya tetap berharap ke depan, siapa pun pemimpinnya, jangan lupakan kampung ini. Bantuan perumahan saja kami susah dapat, padahal kami tinggal di tengah kota. Sampah menumpuk di sekitar pasar ikan, dan belum ada solusi. Harapan kami, kampung ini jangan terus-menerus tertinggal,” ungkap Toni.

Meski ada kekecewaan, warga tetap menaruh harapan agar pemimpin mendatang lebih peduli terhadap kampung pesisir seperti Hamadi, yang selama ini berjasa sebagai lumbung ikan namun kerap terabaikan dalam pembangunan. (Arie)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *