DI PAPUA, tanah yang dilukis langit biru dan dijaga rimba purba, suara tentang harapan muncul bukan dari podium megah, melainkan dari kedalaman empati dan pemahaman yang jujur terhadap bumi yang ditinggali. Suara itu adalah sosok Mathius D. Fakhiri (MDF), digambarkan secara mendalam oleh Steve Rick Elson Mara dalam buku Sustainabilitas Membangun Papua.
Catatan: Ari Bagus Poernomo
Buku ini bukan sekadar kumpulan gagasan pembangunan. Ia adalah refleksi—tentang tanah, manusia, dan pemimpin yang tidak hanya melihat Papua dari balik kaca mobil dinas, tapi yang pernah menginjak jalan tanah, berbicara dengan rakyat, dan mendengar denyut kehidupan dari akar rumputnya.
Mathius D. Fakhiri: Pemimpin yang Tumbuh dari Dalam
Melalui narasi yang mengalir dan menyentuh, Steve Mara memotret MDF sebagai figur yang membawa visi pembangunan berbeda. Ini bukan pembangunan biasa. MDF tidak mengusung cetak biru dari pusat kekuasaan, tetapi menggali arah dari dalam—dari nilai, budaya, dan kearifan lokal.
Fakhiri adalah pemimpin yang memahami bahwa Papua tidak bisa dibangun hanya dengan angka dan beton. Ia harus dibangun dengan jiwa, dengan hati yang pernah menangis bersama masyarakatnya, dan dengan keyakinan bahwa tanah ini tak bisa diubah tanpa menghargai akar sejarah dan budaya.
Memandang Keberagaman sebagai Fondasi
Papua bagi MDF, sebagaimana ditulis Steve, bukan wilayah yang harus dipaksakan seragam. Ia adalah taman besar, tempat ratusan bunga berbeda tumbuh dalam harmoni. Keberagaman bukan halangan, tapi sumber kekuatan spiritual untuk membangun peradaban yang adil dan sejati.
Ia memandang pemuda sebagai fajar yang terus datang—membawa peluang dan kekuatan. Tapi seperti fajar, harapan itu perlu jendela yang terbuka. MDF percaya bahwa pemuda Papua harus dibekali nilai lokal dan disinari dengan pengetahuan global agar tumbuh kuat di tanah sendiri.
Pembangunan Tanpa Mencabut Akar
Steve menuliskan gagasan MDF yang tajam: “Untuk apa jalan jika tak membawa pulang? Untuk apa gedung tinggi jika bayangannya menenggelamkan rumah adat?”
Itulah prinsip pembangunan ala Fakhiri—yang tidak mencabut akar. Ia bicara tentang pariwisata yang merawat warisan, pertanian yang berdamai dengan tanah, dan tambang yang tidak menguras nyawa sungai. Papua tidak boleh kehilangan jati diri hanya demi mengejar standar pembangunan yang dibentuk dari luar.
“Papua kaya bukan hanya karena alamnya, tapi karena nilai manusianya,” ujar MDF dalam kutipan yang menjadi napas dari banyak bab dalam buku ini.
Buku sebagai Kompas Moral
Sustainabilitas Membangun Papua bukan buku teknokratis, melainkan cermin dan kompas moral. Ia adalah ajakan untuk membangun Papua bukan dari atas, tapi dari dalam—dari suara rakyat, dari budaya, dan dari hati yang benar-benar ingin memahami.
Steve Rick Elson Mara berhasil menangkap MDF bukan sekadar sebagai tokoh, tetapi sebagai pemimpin yang memilih jalan sunyi: membangun dengan keberanian, bukan popularitas; dengan pemahaman, bukan paksaan; dan dengan cinta, bukan ambisi.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang sering kehilangan arah, buku ini hadir sebagai pengingat: bahwa membangun Papua tidak cukup hanya dengan dana dan proyek—tetapi harus dimulai dari kehendak tulus untuk menjaga manusia dan tanahnya tetap utuh. (***)


















Tetapkan pilihan Pemimpin/Gubernur Papua adalah Gubernur Terpilih sblm PSU👍🤟🤟🤟👍