Paraparatv.id | Jayapura | Pemerintah Kota Jayapura tengah mempersiapkan wilayah perbatasan seperti Muara Tami, Koya, Skouw, dan Moso menjadi kawasan pertanian unggulan. Langkah ini diambil untuk menjadikan Jayapura sebagai kota satelit pertanian yang mandiri.
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jayapura menggandeng tim ahli dari Universitas Hasanuddin Makassar, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Muh. Hatta Jamil, M.Si., untuk melakukan kajian terhadap kondisi tanah dan tanaman yang cocok dikembangkan.
“Saya diminta untuk membantu merancang pengembangan pertanian di Jayapura. Kami akan meneliti jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim, agar hasilnya maksimal dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Prof. Hatta kepada media di Jayapura, Senin (19/5).
Menurutnya, penelitian ini melibatkan banyak bidang ilmu, seperti ahli tanah, sosial ekonomi, pemetaan wilayah, hingga hidrologi. Semua digabungkan agar hasil yang didapat benar-benar sesuai kebutuhan dan potensi lokal.
Prof. Hatta juga menekankan pentingnya data dan kearifan lokal. “Kami tidak bisa langsung memutuskan tanaman apa yang cocok tanpa data lengkap. Harus ada sinergi antara alam, budaya, ekonomi, dan keinginan masyarakat,” katanya.
Program ini merupakan bagian dari visi lima tahun Wali Kota Jayapura untuk menjadikan daerah perbatasan sebagai lumbung sayur dan buah lokal, mengurangi ketergantungan dari luar daerah.
Dengan dukungan pemerintah dan DPR, masyarakat diharapkan bisa menikmati hasil pertanian dari kampung sendiri, bahkan berpotensi untuk ekspor ke luar negeri.
Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Papua, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM
Mengatakan Wali Kota Jayapura bersama Wakil Wali Kota, jajaran OPD, dan tim ahli pertanian dari Universitas Hasanuddin Makassar melakukan kunjungan langsung ke wilayah Muara Tami, Skouw, hingga perbatasan RI-PNG untuk meninjau potensi lahan pertanian.
Tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Muh. Hatta Jamil, M.Si., akan melakukan kajian mendalam terkait jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di wilayah tersebut. Kajian ini penting karena selama ini banyak tanaman tumbuh subur namun tidak berbuah, seperti durian, alpukat, dan lengkeng.
“Program lima tahun Wali Kota Jayapura adalah menjadikan Muara Tami, Koya, dan Skouw sebagai lumbung sayur dan buah lokal. Sayuran dan buah tidak perlu didatangkan dari luar, cukup dari wilayah kita sendiri,” kata Merauje.
Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, hasil pertanian ini juga nantinya diharapkan bisa diekspor ke negara tetangga seperti Papua Nugini.
Tim ahli akan mengkaji komoditas yang paling sesuai untuk ditanam, seperti kol, tomat, atau jeruk, berdasarkan data kondisi tanah dan sebagainya. Kolaborasi lintas sektor, termasuk eksekutif, legislatif, dan yudikatif, juga disiapkan untuk mendukung regulasi dan pengembangan kawasan ini secara menyeluruh.
“Dengan lahan yang masih luas dan potensi yang besar, saya yakin dalam lima tahun ke depan akan ada perubahan signifikan, terutama di kampung-kampung seperti Skouw dan Moso,” ujarnya.(VN)

















