Paraparatv.id |Tolikara | 30 peserta dari dokter, ahli gizi, bidan, guru PAUD, kader Posyandu, Gembala, Pendeta dan PKK, mengikuti kegiatan Orientasi Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) Distrik Karubaga Kabupaten Tolikara.
Kegiatan ini bertujuan agar peserta mendapat pengenalan fungsi pengelolaan gizi buruk, deteksi dini gizi buruk menggunakan Pita LILA (pengukuran lengan atas anak untuk mengetahui status gizi balita) kegiatan berlangsung selama dua hari 12 dan 13 Oktober 2023.
Kegiatan ini diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tolikara bersama Yayasan Pembangunan Pendidikan & Kesehatan di Papua (YP2KP) di dukung oleh UNICEF Papua, Kamis (12/10) Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Tolikara.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tolikara, Legion Elfrans Jikwa,S.KM menyampaikan semua pihak harus terlibat cegah gizi buruk.
“Penyebab balita menderita gizi buruk antara lain kurangnya asupan makanan baik kuantitas maupun kualitas, penyakit infeksi (Diare, ISPA, Malaria, TBC, HIV/AID) cacat bawaan, keganasan, tidak tersedianya air bersih dan jamban serta sanitasi yang buruk,”ucapnya
Ia menambahkan, Balita gizi buruk rentan terhadap penyakit karena menurunnya daya tahan tubuh. Pelayanan memerlukan keterlibatan dari asuhan medis, asuhan keperawatan dan asuhan gizi, sehingga diharapkan setiap fasilitas kesehatan mampu melaksanakan ketiga asuhan tersebut.
“Saat ini cakupan pelayanan balita gizi buruk masih rendah, untuk itu peningkatan peran keluarga dan masyarakat diperlukan untuk deteksi dini dan pencegahan balita gizi buruk dalam upaya pencegahan dan tata laksana kasus. Agar tersedia tenaga yang mampu melakukan pencegahan dan tatalaksana gizi buruk pada balita sesuai dengan protokol kesehatan terutama disaat masa pandemi ini,”Tuturnya.
Fasilitator Program Gizi Provinsi Papua Pegunungan Yayasan Pembangunan Pendidikan & Kesehatan di Papua (YP2KP) Savira Ulia Tsani, menjelaskan orientasi ini bisa di lakukan dimana saja kapan saja untuk mengetahui kondisi gizi balita lebih dini.
“Kegiatan orientasi ini upaya memastikan pelayanan penanganan gizi buruk dapat tetap terlaksana dengan pendekatan pelibatan masyarakat, melalui kader kesehatan yang sudah ada pemantauan bersama-sama dengan kampung dan Puskesmas,”ujarnya
Di harapkan Peserta memahami kebijakan pencegahan dan tata laksana gizi buruk pada balita, Peserta mampu melakukan penemuan dini dan konfirmasi kasus gizi buruk pada balita. Mampu melakukan pengelolaan terintegrasi upaya penanggulangan gizi buruk pada balita.
“Peserta mampu melakukan tata laksana rawat jalan gizi buruk pada balita. Adanya Skrining pita LILA bisa dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas dan mobilisasi Masyarakat (posyandu, Satuan PAUD dan orangtua/pengasuh/Masyarakat lainnya).
Melakukan pengukuran pita LILA (Lingkar Lengan Atas) tidak harus dilakukan oleh tenaga Kesehatan, namun bisa dilalukan oleh orangtua/pengasuh dirumah, yang penting kita sebagai tenaga kesehatan atau kader yang sudah terlatih bisa memperluas cara melakukan pengukuran lingkar lengan atas (LILA) yang baik dan benar” ucapnya.(*/VN)

















